IBU Dr Ir  Hj. Luluk  Prihastuti Ekowahyuni , MSi

Di Fakultas`Pertanian pada Semester Ganjil Th Akademik 2012/2013 adalah :

1. Koordinator Mata Kuliah Rekayasa Tanaman I ( 2 sks)

2. Koordinator Mata Kuliah Rekayasa Tanaman II (2 sks)

3. Koordinataor Praktikum Produksi Dan Teknologi Benih (1 sks)

4. Team Mata Kuliah Pengantar Ilmu Pertanian ( 2 sks)

5. Team Mata kuliah Produksi dan Teknologi Benih ( 2 sks)

PENGANTAR ILMU PERTANIAN NOV 2010

 

Sektor pertanian masih tetap akan berperan besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Peranan sektor pertanian dalam perekonomian

nasional dapat dilihat dalam pembentukan PDB, penerimaan devisa,penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan, dan penyediaan bahan baku industri.

 

Sektor pertanian juga berperan dalam meratakan pembangunan melalui upaya pengentasan kemiskinan dan perbaikan pendapatan masyarakat. Selain itu, sekor pertanian juga telah menjadi salah satu pembentuk budaya bangsa dan penyeimbang ekosistem.

Kinerja sektor pertanian merupakan refleksi dari hasil kerja bersama seluruh stakeholder terkait yang mendorong petani dan pelaku lainnya untuk menghasilkan komoditas pertanian secara efisien, produktif dan bermutu.

 

Kinerja sektor ini juga tergantung pada kondisi iklim, kelancaran distribusi sarana dan hasil produksi, kebijakan di bidang pengairan dan tataguna lahan, kebijakan perbankan yang memihak kepada petani, kebijakan harga

dan perdagangan.

Pertumbuhan PDB pertanian menunjukkan trend yang meningkat sejak tahun 2005. Sampai Triwulan III tahun 2007, pertumbuhan sektor pertanian mencapai 4,62%, dibanding tahun 2006 dan merupakan tingkat pertumbuhan tertinggi setelah krisis ekonomi.

 

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh subsektor perkebunan (2,80 %), diikuti oleh peternakan (2,41 %) dan tanaman bahan makanan (2,30 %). Kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional pada tahun 2007 mencapai 10,40 persen, dengan kontribusi terbesar dari subsektor tanaman bahan makanan sebesar 16,30 persen, diikuti oleh subsektor perkebunan 2,00 persen dan subsektor peternakan 2,00 persen.

 

Minat investor di sektor pertanian selama periode tahun 2004-2006 menunjukkan peningkatan cukup tajam. Persetujuan PMDN meningkat 126persen dari Rp 1,92 triliun tahun 2004 menjadi Rp 4,34 triliun tahun 2005, kemudian meningkat lagi sebesar 54,61 % atau menjadi menjadi Rp.6,71 triliun tahun 2006. Sampai bulan Agustus 2007 persetujuan PMDN telah mencapai Rp. 18,18 triliun. Sementara itu, persetujuan PMA meningkat 122persen dari 208,30 juta dollar AS tahun 2004 menjadi 461,80 juta dollar AStahun 2005, kemudian meningkat lagi sebesar 44,98 persen menjadi

658,70 juta dollar AS tahun 2006. Sampai bulan Agustus 2007 persetujuan Departemen Pertanian

 

Kinerja Sektor Pertanian Tahun 2007 PMA telah meningkat menjadi 1,0691 juta dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa prospek bisnis di sektor pertanian cukup baik yang disertai dengan iklim investasi yang kondusif.

 

Sampai saat ini, sektor pertanian masih menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja. Kemampuan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian mencapai sekitar separuh dari angkatan kerja nasional.

 

Pada tahun 2004 tenaga kerja yang terserap pada sektor pertanian tercatat sebesar 40,61

juta orang, dan pada tahun 2005 mencapai 41,81 juta orang. Selanjutnya pada tahun 2006 penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian meningkat menjadi 42,33 juta orang, atau 44,47 persen dari total pekerja.

 

Pada tahun 2007 target tambahan lapangan kerja di sektor pertanian sebanyak 2,6 juta

orang. Masih tingginya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian menunjukkan peran sektor pertanian sebagai buffer dalam perekonomian nasional mengingat masih terbatasnya penyerapan tenaga kerja di sektor-sektor lainnya. Oleh karena itu, pembangunan pertanian harus tetap menjadi prioritas utama pembangunan ekonomi nasional.

 

Salah satu indikator utama tingkat kesejahteraan umum ialah prevalensi jumlah penduduk miskin. Kemampuan Indonesia untuk menurunkan jumlah penduduk miskin secara konsisten, terutama di pedesaan, merupakan prestasi yang patut dibanggakan.

 

Menurut data BPS, jumlah penduduk miskin tahun 2006 mencapai 39,10 juta (17,75%). Sementara itu, sampai bulan Juli 2007, jumlah penduduk miskin telah menurun menjadi 37,17 juta(16,58%). Namun demikian, sekitar 63,4 % dari penduduk miskin tersebut tinggal di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian. Hal ini memperkuat lagi argumen tentang pentingnya memberikan prioritas pembangunan pada sektor pertanian. Menurut beberapa hasil penelitian, pertumbuhan sektor

pertanian mencapai dua kali lebih efektif dalam menanggulangi kemiskinan dibanding sektor-sektor lainnya,

 

Variabel yang sering digunakan sebagai indikator kesejahteraan petani adalah indeks Nilai Tukar Petani (NTP). Secara nasional, NTP terusmeningkat dari 96,93 pada tahun 2000 (Tahun dasar 1993 = 100) menjadi 116,63 pada tahun 2003. Pada tahun 2005 NTP mengalami penurunan menjadi 100,66, yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM. Melalui berbagai upaya yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani,rata-rata NTP pada tahun 2006 kembali meningkat menjadi 102,49, dengan kecenderungan yang terus membaik. NTP bulanan menunjukkan adanya Departemen Pertanian Kinerja Sektor Pertanian Tahun 2007 pencapaian yang cukup tinggi seperti pada bulan Januari 2007 yang mencapai 108,29 dan pada bulan September 2007 mengalami sedikit penurunan menjadi 106,30.

 

Sektor pertanian tetap menjadi andalan dalam penyediaan pangan. Ketersediaan pangan dalam bentuk kalori dan protein secara kuantitasmasing-masing telah lebih dari 3.000 Kkal/kapita/hari dan lebih dari 74 gram/kapita/hari atau lebih tinggi dibandingkan rekomendasi ketersediaan 2.550 Kkal/kapita/hari dan 55 gram/kapita/hari. Konsumsi energi pada tahun 2005 di wilayah desa dan kota menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2004, yaitu dari 1986 kkal/kapita/hari (99,3%) menjadi 1996 kkal/kapita/hari (99,5%). Demikian juga untuk konsumsi protein, secara umum menunjukkan peningkatan dari 54,7 gram/kap/hari tahun 2004

menjadi 55,3 gram/kap/hari tahun 2005. Pada tahun 2006, konsumsi energy mencapai 1927 kkal/kapita/hari, dan konsumsi protein menjadi 53,7gr/kap/hari. Dalam hal pencapaian Pola Pangan Harapan (PPH) masih diperlukan upaya-upaya yang lebih keras lagi. Tahun 2005 skor PPH sebesar 79,10, namun sedikit menurun menjadi 74,90 tahun 2006.

 

Produksi padi tahun 2007 (Angka Ramalan III) mencapai 57,07 juta ton GKG, meningkat 2,59 juta ton GKG atau 4,76% dibanding produksi tahun 2006. Pencapaian angka produksi padi tersebut merupakan angka tertinggi yang pernah dicapai selama ini. Peningkatan produksi padi tahun 2007tersebut terjadi diluar Jawa sebesar 1,92 juta ton (7,85%) dan di Jawa

sebesar 0,67 juta ton (2,24%). Di luar Jawa, peningkatan produksi disebabkan oleh naiknya luas panen sebesar 370,59 ribu hektar (6,09%)

dan produktivitas sebesar 0,66 kw/ha (1,64%). Sedangkan di Pulau Jawa, disebabkan oleh peningkatan luas panen seluas 8,58 ribu ha (0,15%) danproduktivitas sebesar 1,09 kw/ha (2,08%).

 Produksi jagung tahun 2007 (ARAM III) mencapai 13,28 juta ton pipilan kering, naik 1,67 juta ton atau 14,39% dibandingkan produksi tahun 2006. Pencapaian produksi jagung tahun 2007 sama halnya dengan padi

merupakan produksi tertinggi yang pernah dicapai selama ini. Kenaikan produksi tersebut disebabkan karena kenaikan luas panen seluas 273,61 ribu hektar (8,18%) dan kenaikan produktivitas sebesar 1,99 kuintal/hektar

(5,73%). Peningkatan produksi terjadi diluar Jawa 901.246 ton (18,31%)dan di Pulau Jawa 769.085 ton (11,50%). Di luar Jawa, peningkatan produksi disebabkan oleh naiknya luas panen 147.406 hektar (9,48%) dan

produktivitas 2,55 kw/ha (8,05%).

 

Sedangkan di Jawa, disebabkan oleh peningkatan luas panen 126.200 ha (7,04%) dan produktivitas 1,55 kw/ha(4,15%). Kenaikan luas panen dan produktivitas yang signifikan akibat makin meluasnya minat petani dalam menanam jagung, dan penggunaan benih varietas unggul bermutu terutama varietas hibrida yang disertai dengan penerapan teknologi pemupukan berimbang dan teknologi budidayalainnya seseuai dengan anjuran.

 

 Produksi kedelai tahun 2007 (ARAM III) mencapai 608,263 ton biji kering,mengalami penurunan 139,35 ribu ton atau 18,64% dibandingkan produksi tahun 2006. Penurunan produksi tersebut terjadi karena berkurangnya luaspanen yang cukup luas yakni mencapai 116,11 ribu hektar (20,00%), sedangkan produktivitas mengalami kenaikan 0,22 kuintal/hektar (1,71%). Departemen Pertanian Kinerja Sektor Pertanian Tahun 2007

 

Peningkatan produksi tanaman pangan yang spektakuler tahun 2007(terutama padi dan jagung), dapat dijelaskan oleh beberapa faktor.

Pertama, kondisi iklim tahun 2007 memang sangat kondusif dengan curah hujan yang cukup tinggi dan musim kemarau relatif pendek. Kedua,perkembangan harga-harga komoditas pangan di dalam negeri yangmeningkat cukup signifikan sebagai refleksi dari perkembangan harga di pasar dunia dan efektifitas kebijakan pemerintah. Ketiga, pengaruh berbagai kebijakan dan program pemerintah meliputi penetapan harga,

pengendalian impor, subsidi pupuk dan benih, benih gratis, penyediaan modal, akselerasi penerapan inovasi teknologi, fasilitasi penyuluhan, dan lain-lain.

 

Peningkatan produksi hortikultura diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yaitu untuk konsumsi, bahan baku industri, peningkatan ekspor dan substitusi impor. Dengan demikian peningkatan produksi, mutu

dan daya saing produk merupakan kegiatan utama yang harus dilakukan dibarengi dengan upaya pengembangan pasar dan promosi produk. Kegiatan pengembangan produksi telah memberikan dampak positif pada penumbuhan ekonomi regional, penyediaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan petani/pelaku usaha.

 

Secara keseluruhan produksi hortikultura menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan ini terjadi sebagai akibat pertambahan luas areal tanam sebelumnya, semakin banyaknya tanaman yang menghasilkan dari pertanaman sebelumnya, berkembangnya teknologi produksi yang diterapkan petani, semakin intesifnya bimbingan dan fasilitasi kepada petani dan pelaku usaha, semakin baiknya manajemen usaha, dan adanya penguatan kelembagaan agribisnis petani.

 

Perkembangan produksi hortikultura 2006 – 2007 untuk komoditas bawah merah, cabe, kentang,jeruk, durian dan mangga masing – masing sebesar 8,51, 12,01, 0,23,15,88, 32,08 dan 14,80 persen.

 

Pada tahun 2007 populasi ternak ruminansia yaitu : sapi potong mencapai 11,4 juta ekor, sapi perah 0,4 juta ekor, kerbau 2,2 juta ekor, kambing 14,9 juta ekor, domba 9,9 ekor. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2006) populasi ternak mengalami peningkatan yaitu untuk sapi potong 4,5persen, sapi perah 2,4 persen, kerbau 3,7 persen, kambing 7,9 persen, dan domba 9,8 persen. Sedangkan populasi ternak non ruminansia yaitu babi mencapai 6,8 juta ekor, kuda 0,4 juta ekor, ayam buras 317,4 juta ekor,ayam ras petelur 106,9 juta ekor, ayam ras pedaging 920,8 juta ekor dan itik 34,1 juta ekor. Bila dibandingkan dengan tahun 2006 populasi ternak mengalami peningkatan yaitu untuk babi 8,7 persen, kuda 3,6 persen, ayam buras 9,1 persen, ayam ras petelur 6,7 persen, ayam ras pedaging 15,5 persen dan itik 4,9 persen.

Pada tahun 2007 produksi daging sebanyak 2.169,8 ribu ton yang terdiri dari daging sapi dan kerbau 464,1 ribu ton, kambing dan domba 148,2 ribu ton, babi 198,9 ribu ton, ayam buras 349,0 ribu ton, ayam ras pedaging 918,5 ribu ton dan ternak lainnya 91,1 ribu ton. Produksi daging terbesar disumbang oleh ayam ras pedaging (42,3 persen), sapi dan kerbau (21,4

persen), ayam buras (16,1 persen) dan babi (9,2 persen).

Bila dibandingkan dengan tahun 2006 produksi daging mengalami peningkatan sebesar 4,8

persen dengan peningkatan terbesar berasal dari ternak domba sebesar 63,4 persen, diikuti oleh ternak kuda 35,2 persen. Produksi ternak yang mengalami penurunan adalah ayam ras pedaging sebesar 3,9 persen.

 

Produksi telur pada tahun 2007 adalah 1297,2 ribu ton yang terdiri dari telur ayam buras 212,5 ribu ton, ayam ras petelur 882,2 ribu ton dan itik 202,5 ribu ton. Sedangkan produksi telur terbesar disumbang oleh telur ayam ras

68,0 persen, telur ayam buras dan itik hampir sama yaitu 16,0%. Bila dibandingkan dengan tahun 2006 produksi telur mengalami kenaikan

sebesar 7,7 persen dengan kenaikan yang terbesar berasal dari ayam buras sebesar 9,6 persen .

 

Produksi susu pada tahun 2007 sebanyak 636,9 ribu ton yang seluruhnya berasal dari sapi perah. Bila dibandingkan dengan tahun 2006 produksi susu mengalami kenaikan sebesar 3,3 persen.

 

Luas areal komoditas perkebunan tahun 2007 berdasarkan angka estimasi akan naik 0,45 persen dibandingkan dengan tahun lalu, yaitu dari 17,6 jutaha menjadi 17,7 ha dengan peningkatan paling tinggi masih untuk komoditas kelapa sawit.

 

Produksi komoditas perkebunan tahun 2007

berdasarkan angka estimasi akan naik 3,74 persen dibandingkan dengan tahun lalu, yaitu dari 26,06 juta ton menjadi 27,03 juta ton. Kontribusi utama dari tanaman tahunan meliputi karet sebesar 2,60 juta ton, kelapa sawit sebesar 16,83 juta ton, kopi sebesar 570,67 ribu ton, kakao sebesar 841,68 ribu ton dan kelapa sebesar 3,22 juta ton. Sedangkan untuk tanaman semusim produksi tebu mencapai 2,32 juta ton.

 

Khusus untuk komoditi tebu perkembangan pelaksanaan giling Musim Tanam Tahun 2007 sampai dengan bulan September 2007 mencapai areal seluas 322,69 ribu ha, produksi tebu sebesar 24,78 juta ton dengan rendemen rata-rata sebesar 7,39 persen.

produktivitas tebu 76,8 ton/ha dan produktivitas hablur 5,67 ton/ha serta produksi tetes 1,05 juta ton.

 

Secara umum kondisi harga komoditas pertanian nasional mengalami peningkatan terutama untuk beberapa komoditas pangan strategis seperti gabah/beras, jagung dan CPO. Peningkatan harga komoditas pertanian utamanya ditingkat petani akan memberikan insentif tambahan bagi pengembangan kegiatan usahatani.

 

Penetapan HPP gabah dan beras merupakan salah satu kebijakan dalam upaya mengangkat harga yang diterima di petani. Fakta menunjukkan bahwa harga gabah di tingkat petani (GKP dan GKG) terus menunjukkan peningkatan seiring dengan kebijakan harga yang ditetapkan pemerintah.

 

Sejak pertengahan 2005, harga gabah dan beras selalu lebih tinggi dari Harga yang ditetapkan pemerintah. Hal ini menunjukkan keberhasilan kebijakan perberasan melindungi kepentingan petani, sehingga petani dapat menikmati harga yang lebih baik. Secara umum, pada periode 2000–2006 menunjukkan bahwa harga GKP di tingkat petani rata -rata berada diatas harga dasar (HPP). Demikian pula dengan harga gabah ditingkat petani di tahun 2007. Pada Bulan April 2007, rataan harga gabah ditingkat petani sekitar Rp 2192/Kg GKP atau Rp 2784/Kg GKG yang berada diatas HPP sebesar Rp 2035/Kg GKP atau Rp 2575/Kg GKG.

 

Disamping harga beras, harga beberapa komoditas pertanian lainnya seperti jagung juga menunjukkan peningkatan dari Rp1000/Kg (2006) menjadi Rp 2400/Kg – Rp 2600/Kg (Oktober 2007). Sementara, harga jagung di level internasional pada waktu yang sama tampaknya sedikit diatas harga domestik yaitu sekitar 270 US $/ton. Untuk harga patokan

ekspor CPO domestik per Desember 2007 mencapai US $ 862/ton, sementara harga internasional CIF Nort West Europe per November 2007 sebesar US $ 952/ton.

 

Kebijakan dan program pembangunan pertanian dirancang sesuai dengan dinamika permasalahan dan kebutuhan petani dan para pemangku kepentingan lainnya. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan pertanian sangat tergantung pada komitmen dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan. Sehubungan itu Departemen Pertanian telah mengerahkan upaya dan daya, baik dari kalangan birokrasi, peneliti, akademisi, masyarakat pertanian, perbankan, maupun kerjasama dengan negara-negara sahabat. Rancangan program telah disusun bersama dengan masyarakat pertanian, dan secara terus menerus telah disosialisasikan kepada publik untuk disempurnakan guna memperkokoh sektor pertanian. Di antara sekian banyak kegi

kegiatan yang telah dilakukan,

antara lain program memperkokoh ketahanan pangan penduduk, upaya merehabilitasi dan memperbaiki kondisi lahan gambut sejuta hektar, pengembangan industri gula aren yang berpotensi menyerap ribuan tenaga kerja, dan merekomendasikan teknologi padi hibrida yang berpeluang besar untuk menjadikan I

ndonesia benar-benar mandiri di bidang beras.

 

Kesungguhan dan upaya tersebut juga didukung oleh semakin meningkatnya APBN sektor pertanian, yang mana pada pada tahun 2007 APBN pertanian telah ditingkatkan menjadi Rp 8,7 trilyun dan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 1,4 trilyun atau anggaran total sebesar Rp 10,1 trilyun. Anggaran ini belum termasuk anggaran pendukung pertanian yangberada di luar Departemen Pertanian, seperti anggaran subsidi pupuk, anggaran Raskin, Kredit Ketahanan Pangan, pembangunan irigasi, infrastruktur perhubungan serta kelembagaan pertanian.

 

Bantuan benih unggul gratis bagi petani telah meningkat berturut-turut dari tahun 2004 sampai 2007 yaitu masing-masing sebesar Rp 80,9 milyar, Rp106 miliar, Rp 115 miliar, dan Rp 1 trilyun. Peningkatan dalam kurun waktu empat tahun tersebut mencapai 13 kali lipat.

Hal ini dilakukan setelah mengkaji secara mendalam bahwa teknologi perbenihan sangat penting bagi peningkatan produktivitas dan pendapatan petani, namun selama ini harganya masih memberatkan bagi petani. Penyaluran benih unggul periode Oktober 2006 sampai Mei 2007 adalah 61.400 ton yang cukup untuk pertanaman seluas 2,5 juta hektar.  

 

Peningkatan sarana kerja penyuluh, pengamat hama, penanganan bencana alam di wilayah pertanian dan penanganan penyakit hewan telah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Misalnya pada tahun 2006, telah didistribusikan 5.000 unit kendaraan bermotor serta tambahan biaya operasional sebesar Rp. 250 ribu/orang/bulan bagi 28.000 tenaga penyuluh dan pada tahun 2007 disediakan biaya operasioanl dan insentif bagi pengamat hama sebesar antara Rp 1-1,5 juta/orang/bulan. Selanjutnya,pada tahun 2007 ini pula telah disiapkan formasi untuk mengangkat penyuluh kontrak dan pengamat hama sebanyak 7.288 orang yang prosesnya sedang berlangsung.

 

 Kredit pertanian murah dan mudah diakses petani telah pula diperluas. Jika pada tahun 2004 kita menyediakan bantuan bunga sebesar Rp 1,3 trilyun untuk mendukung kredit pertanian sebesar Rp 20,8 trilyun, maka tahun

2007 telah ditingkatkan menjadi 2,5 kali lipat dan telah diperluas menjadi kredit bidang pangan dan bio-energi. Bahkan ditambah lagi dengan kredit penjaminan agunan yang mencapai Rp.1 trilyun guna membuka akses bagi petani kecil mengambil kredit minimal sebesar Rp 5 juta dari perbankan.

 

Untuk melindungi petani dari resiko kejatuhan harga, pemerintah telah meningkatkan anggaran stabilisasi harga beras yang dikenal dengan Dana Penguatan Modal-Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP), dari

Rp 162 milyar tahun 2004 menjadi Rp 299,93 milyar tahun 2007. Dana tersebut digunakan untuk pembelian gabah/beras sebesar 134.353 ton (Rp 232,43 milyar), jagung sebesar 30.347 ton (Rp 52,5 milyar) dan kedelai sebesar 8.671 ton (Rp 15 milyar). Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan program pembelian beras oleh BULOG dan kebijakan pengendalianimpor beras.

 Untuk memperbesar akses petani terhadap pembiayaan dari perbankan,pemerintah telah menempatkan dana penjaminan sebesar Rp 255 milyar pada lima bank pelaksana, dengan harapan dapat menyalurkan pembiayaan sampai 10 kali lipat dari nilai tersebut. Penyaluran

kredit/pembiayaan SP-3 oleh bank pelaksana sampai dengan Desember 2006 adalah Rp 18,8 milyar dan selanjutnya dari Januari sampai Mei 2007 telah mencapai sebesar Rp 107,745 milyar sehingga total dana yang telah disalurkan oleh bank pelaksana ke petani adalah sebesar Rp 126,6 milyar.

Bila dilihat menurut subsektor, penyaluran kredit/pembiayaan SP-3 tersebutsampai dengan Mei 2007 untuk subsektor tanaman pangan sebesar 23,32persen, hortikultura 1,83 persen, perkebunan 35,22 persen, peternakan10,92 persen dan perdagangan pertanian 28,71 persen.

Genetika : Hukum Mendel

Artikel ini telah dibaca 16,743 kali

Setelah dulu saya menuliskan artikel tentang kromosom di sini dan tentang materi genetis, sekarang saatnya saya menjelaskan tentang Genetika. Dua artikel yang telah saya tunjukkan tadi sebenarnya merupakan dasar untuk memahami konsep genetika lebih lanjut nantinya. Sekarang saya akan menuliskan dulu mengenai konsep genetika menurut Mendel, atau sering disebut Genetika Mendellian.

I. Pendahuluan

 

Gen adalah suatu unit fungsional dasar hereditas yang merupakan titik focal dalam ilmu genetika modern. Pada semua cabang-cabang ilmu genetika, gen merupakan benang merah yang mempersatukan keberagaman dalam pelaksanaan percobaan.

Para ahli ilmu genetika memiliki perhatian yang sangat besar terhadap transmisi gen dari

generasi ke generasi, struktur fisik gen, variasi dalam gen, dan terhadap cara bagaimana gen menurunkan sifat-sifat dari sebuah spesies.

Dalam chapter ini akan dirunut bagaimana konsep gen muncul. Kita dapat melihat bahwa genetika adalah suatu ilmu yang abstrak dimana umumnya dimulai dari rangkaian hipotesis dalam pikiran para ahli genetika dan kemudian diidentifikasi dalam bentuk fisik.

Konsep gen (bukan kata ’gen’nya) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1865 oleh GregorMendel. Setelah itu, tidak banyak kemajuan dalam memahami hereditas yang telah dilakukan.

Gagasan yang sedang berlaku pada saat itu adalah sperma dan sel telur mengandung sebuah sampling/cuplikan intisari dari berbagai bagian pada tubuh induk; sehingga pada proses pembuahan, intisari ini bercampur entah bagaimana untuk membentuk sifat individu baru yang dihasilkan. Ide ini yang disebut ” blending inheritance” (keturunan campuran) disusun untuk menjelaskan fakta bahwa hasil keturunan biasanya menunjukkan beberapa sifat yang sama dengan kedua induknya. Namun, ada beberapa masalah yang dihasilkan dari ide ini, satu diantaranya adalah hasil keturunan tidak selalu merupakan campuran antara sifat kedua induknya.

Usaha untuk mengembangkan dan meningkatkan teori ini tidak mengarahkan pada pengertian yang lebih baik tentang hereditas. Kemudian sebagai hasil dari penelitiannya terhadap tanaman kacang polong, Mendel mengajukan teori alternatif yaitu ”particulate inheritance” (inheritan partikulat). Menurut teori Mendel, karakter-karakter ditentukan oleh unit-unit yang mempunyai ciri tersendiri yang diturunkan secara utuh ke generasi berikutnya. Model ini dapat menjelaskan berbagai hasil pengamatan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori keturunana campuran. Teori Mendel juga dapat digunakan dengan baik sebagai kerangka untuk pengertian tentang mekanisme hereditas lebih lanjut dan terinci. Pentingnya hasil pemikiran Mendel tersebut tidak dikenal sampai sekitar tahun 1900 (setelah kematiannya). Karya tulisnya kemudian ditemukan kembali oleh tiga saintis, setelah masingmasing mendapatkan hasil yang serupa secara terpisah. Penelitian Mendel merupakan bentuk dasar dari analisis genetika. Ia memberikan pendekatan secara eksperimental dan logis untuk hereditas yang masih digunakan sampai sekarang ini.

 

 

II. Percobaan Mendel

Studi Mendel menghasilkan sebuah contoh luar biasa dari teknik saintifik yang baik. Ia memilih bahan-bahan penelitian yang cocok untuk mempelajari masalah yang ada, mendesain percobaannya dengan hati-hati, mengumpulkan banyak sekali data, dan menggunakan analisis matermatika untuk menunjukkan bahwa hasil-hasilnya konsisten dengan penjelasan-penjelasan hipotesisnya. Perkiraan hipotesisnya diuji dalam sebuah rangkaian percobaan yang baru.

Mendel mempelajari tanaman kacang polong (Pisum Sativum) untuk dua alasan utama. Pertama, kacang polong tersedia dari berbagai jenis susunan bentuk dan warna yang berbeda yang dapat dengan mudah diidentifikasi dan dianalisis. Kedua, tanaman kacang polong dapat melakukan penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang. Penyerbukan sendiri pada tanaman kacang polong terjadi karena bagian laki-lakinya (anthers) dan bagian wanita (ovaries) pada bunganya menghasilkan serbuk yang mengandung sperma dan indung telur yang mengandung sel telur, dimana masing-masing tertutup oleh dua kelopak yang bergabung membentuk sebuah ruang/ kompartemen yang disebut keel (lunas) (Gambar 2-1). Siapapun dapat melakukan penyerbukan silang dari dua pohon kacang polong manapun dan kapanpun (sewaktu-waktu). Anthers dari satu pohon dipindahkan sebelum mereka terbuka untuk melepaskan sebuk-serbuknya, sebuah operasi yang disebut dengan emaskulasi (emasculation) yang dilakukan untuk melindungi penyerbukan sendiri. Serbuk dari tanaman yang lain kemudian ditransfer ke stigma reseptif dengan sebuah sikat/kuas atau pada anthers-nya masing-masing (Gambar 2-2). Sehingga, para pelaku percobaan dapat memilih dengan mudah akan melakukan penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang terhadap tanaman kacang polong (peas).

Alasan praktis lain untuk pilihan Mendel terhadap tanaman kacang polong adalah sangat murah dan mudah didapat, memerlukan ruang yang tidak luas, mempunyai waktu generasi yang relatif singkat, dan menghasilkan banyak keturunan. Pertimbangan-pertimbangan itu menuju pada pemilihan organisme untuk tiap riset genetika yang ada. Pemilihan organisme merupakan keputusan yang krusial dan sering tidak hanya berdasarkan pada sains tetapi juga sebagai ukuran yang baik untuk kelayakan.

 

III. Tanaman yang Memiliki Satu Karakter Berbeda

Mendel memilih banyak karakter untuk dipelajari. Di sini, kata ‘character’ berarti sifat spesifik dari sebuah organisme; para ahli genetika menggunakan istilah ini sebagai sinonim untuk sifat atau ciri-ciri.

Untuk tiap karakter yang dipilihnya, Mendel mendapat garis keturunan dari tumbuhan yang ia besarkan selama dua tahun untuk memastikan mereka benar-benar asli/murni. Sebuah garis keturunan murni adalah sebuah populasi yang menurunkan sifat asli, atau tidak menunjukkan variasi pada karakter tertentu yang dipelajari, yaitu semua keturunan yang dihasilkan dari penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang dalam populasi menunjukkan bentuk yang sama dari karakter ini. Dengan memastikan “garis keturunan Mendel” menghasilkan keturunan yang benar, maka Mendel membuat sebuah garis keturunan dasar yang telah ditetapkan (fixed) untuk studinya di masa depan, sehingga setiap perubahan yang tampak setelah manipulasi yang sengaja dilakukan dalam penelitiannya, akan sangat berarti secara ilmiah; dan sebagai efeknya, Mendel

membuat suatu percobaan pengontrol.

Dua dari garis keturunan tanaman kacang polong yang ditumbuhkan oleh Mendel terbukti asli menurunkan karakter warna bunga. Satu garis keturunan asli menurunkan bunga berwarna ungu, dan garis yang lainnya menurunkan bunga berwarna putih. Tanaman manapun yang berada pada garis keturunan bunga ungu (ketika dilakukan penyerbukan sendiri atau silang dengan tanaman lain dari garis keturunan yang sama) akan menghasilkan biji yang akan tumbuh menjadi tanaman dengan bunga berwarna ungu. Jadi ketika tanaman-tanaman ini dilakukan penyerbukan sendiri atau silang diantara satu garis keturunan, maka keturunannya juga menghasilkan bunga berwarna

ungu, dan seterusnya. Demikian pula garis keturunan bunga berwarna putih akan  menghasilkan bunga yang berwarna putih saja seluruh generasinya. Mendel mendapat tujuh pasang garisketurunan murni dengan 7 karakter, dimana tiap pasangan berbeda hanya satu karakter sajaTiap pasangan dari garis keturunan tanaman Mendel dapat dikatakan menunjukkan sebuahperbedaan karakter, yaitu sebuah perbedaan yang kontras di antara dua garis keturunanorganisme (atau di antara dua organisme) dalam satu karakter tertentu. Perbedaan garisketurunan (atau individu) mewakili perbedaan bentuk yang terjadi pada karakter yang disebut bentuk-bentuk karakter, variasi karakter atau fenotip. Istilah ‘fenotip’ (berasal dari Yunani) secara harfiah berarti “ bentuk yang tampak”; merupakan istilah yang digunakan oleh ahli genetika saat ini. Walaupun kata-kata seperti gen dan fenotip tidak digunakan oleh Mendel, kita akan menggunakan kata-kata itu untuk menjelaskan hasil dan hipotesis Mendel.

 

BAHAN AJAR
ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH
TIM PENGAMPU
PROGRAM HIBAH PENULISAN BUKU AJAR
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2011

PRODUKSI BENIH
PENDAHULUAN

Benih bermutu dari suatu varietas unggul merupakan salah satu komponen
produksi pertanian yang sangat penting. Dalam upaya pengembangan pertanian, baik
dalam peningkatan produksi maupun peningkatan kesejahteraan petani, benih bermutu
dari suatu varietas unggul merupakan komponen produksi hulu yang mempunyai peranan
yang sangat strategis dalam tiga hal, yaitu peningkatan kuantitas hasil per satuan luas,
peningkatan mutu hasil dan nilai ekonomis suatu produk tanaman. Ketiga hal tersebut
secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap peningkatan
kesejahteraan petani. Untuk dapat diterima sebagai benih bermutu, benih harus
mempunyai mutu genetik dan mutu fisik yang baik.
Bab ini membahas mengenai pengertian varietas komposit, faktor-faktor yang
mempengaruhi kemunduran varietas, dan tahapan-tahapan produksibenih jagung
komposit, pengertian hibrida, jenis-jenis hibrida, dan tahapan-tahapan produksi benih
hibrida, kondisi penanganan perbenihan perkebunan, permasalah dan upaya
penanganannya.

a. Sasaran Pembelajaran:
Setelah mengikuti pembelajaran ini, mahasiswa akan mampu menjelaskan
produksi benih melalui makalah hasil kaji pustaka, secara individu.

b. Strategi Pembelajaran
1. Kuliah interaktif
2. Kaji pustaka

c. Kegiatan Belajar
Langkah-langkah kegiatan belajar yang harus dilakukan:
1. Mahasiswa mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.
2. Mahasiswa melakukan penelusuran literatur mengenai produksi benih melalui sumber
bacaan dan internet.
3. Mahasiswa membuat makalah sesuai format yang diberikan.
4. Mahasiswa menyelesaikan tes formatif/evaluasi kegiatan pembelajaran.

d. Indikator Pencapaian
1. Ketepatan penjelasan pengertian varietas komposit dan faktor-faktor yang
mempengaruhi kemunduran varietas
2. Menjelaskan dengan tepat tahapan-tahapan produksi benih jagung komposit
3. Ketepatan penjelasan pengertian hibrida
4. Menyebutkan dengan tepat jenis-jenis hibrida dan tahapan-tahapan produksi
benih hibrida
5. Menjelaskan dengan tepat kondisi penanganan perbenihan perkebunan,
permasalah, dan upaya penanganannya
6. Kemampuan membuat makalah yang baik mengenai produksi benih
7. Kemampuan menunjukkan kedisiplinan selama kegiatan pembelajaran.
URAIAN BAHAN PEMBELAJARAN
1. Pengertian Varietas Komposit, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemunduran
Varietas, dan Tahapan-Tahapan produksi Benih Jagung komposit

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemunduran Varietas
Kemurnian genetik dari suatu varietas dapat mundur disebabkan oleh beberapa
faktor selama siklus produksi. Oleh karena itu cara yang baik untuk menjamin kemurnian
genetik adalah mengatasi sedapat mungkin berbagai faktor yang bertanggung jawab
terhadap kemunduran genetik. Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran
varietas yang dapat terlihat adalah: (1) variasi-variasi yang berkembang, (2) percampuran
mekanis, (3) mutasi, (4) persilangan alami, (5) variasi-variasi genetik yang minor, (6)
pengaruh selektif dari penyakit-penyakit, dan (7) teknik pemuliaan tanaman. Di antara
faktor-faktor tersebut, percampuran mekanis, persilangan alami, dan pengaruh selektif
dari penyakit-penyakit mungkin merupakan alasan-alasan yang paling penting dari
kemunduran genetik dari suatu varietas selama produksi benih, diikuti dengan
pengusahaan tanaman untuk brnih di luar wilayah adaptasi mereka yang dapat
menyebabkan variasi-variasi yang berkembang dan penggeseran genetik dari suatu
varietas.

DEFINISI

Pemuliaan tanaman dapat didefinisikan sebagai gabungan dari ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni agar diperoleh tanaman yang menguntungkan bagi manusia dengan cara merekayasa
gen/kromosom dan lingkungan.Jadi tujuan pemuliaan tanaman ialah untuk memperoleh atau
mengembangkan suatu tanaman sehingga menjadi lebih baik dan menguntungkan bagi kehidupan
manusia.

RUANG LINGKUP

Ruang lingkup pemuliaan tanaman dibagi menjadi empat kegiatan besar, yaitu
pembentukan keragaman genetik (sebagai populasi dasar/bahan dasar proses pemuliaan
tanaman), seleksi (pemilihan yang didasarkan pada penilaian genetik dari populasi yang diseleksi),
pengujian (menguji individu-individu yang terseleksi untuk dipastikan kualitas dan kuantitasnya
sebelum akhirnya dilepas) dan pelepasan varietas.

PROSES PEMULIAAN TANAMAN

Proses yang akan dilalui untuk memuliakan
suatu tanaman adalah sebagai berikut:
a. Penentuan tujuan program pemuliaan
Penentuan tujuan ialah proses yang wajib untuk dilakukan karena akan menentukan pada
hasil yang akan diperoleh. Tujuan program pemuliaan biasanya diperoleh dari masalahmasalah
yang ditemui dilapang, sehingga diharapkan hasil program pemuliaan tersebut
dapat menjadi solusi permasalahan yang ada.

b. Penyediaan materi pemuliaan (Pembentukan keragaman genetik)
Penyediaan materi pemuliaan (populasi dasar) yang memiliki keragaman genetik yang tinggi
sangat penting untuk menunjuang proses pemuliaan tanaman. Karena suatu tanaman dapat
ditingkatkan potensi genetiknya jika terdapat keragaman genetik dalam populasinya.

c. Penilaian untuk dijadikan varietas baru (Seleksi)
Proses seleksi dapat dilakukan jika materi pemuliaan (populasi dasar) memiliki keragaman
genetik yang tinggi. Pemilihan individu atau populasi didasarkan pada penampakan fenotip
atau uji keturunan. Keefektifan seleksi tergantung pada tujuan program pemuliaan, tingkat
keragaman genetik pada populasi dasar, jenis tanaman dan parameter genetik.

d. Pengujian
Sebelum dilepas menjadi varietas baru, terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadapindividu atau populasi terseleksi. Pengujian tersebut berupa uji adaptasi dan uji daya hasil,sehingga dapat diketahui kemampuan individu atau populasi tersebut pada lingkungan jikadibandingkan dengan varietas unggul yang sudah ada.

MANFAAT PEMULIAAN TANAMAN

Beberapa manfaat dari pemuliaan tanaman ialah diperolehnya varietas-varietas baru yang
memiliki hasil tinggi (hibrida), varietas yang tahan hama atau penyakit dan cekaman abiotik,
varietas dengan umur pendek (genjah), varietas spesifik lokasi, varietas dengan nilai setetika tinggi
(tanaman hias), varietas dengan kandungan nutrisi tertentu (misalnya protein tinggi).

 

 

I.  STRUKTUR BENIH DAN KECAMBAH

 

Waktu dan tempat :  Kamis  /4  Oktober 2012 dan Laboratorium Fakultas`Pertanian UNAS BAMBU KUNING Pejaten

Jakarta selatan

Tujuan : Untuk mengetahui secara garis besar tentang keadaan struktur benih dan perkecambah

Dasar Teori : Setiap biji matang (mature seed) selalu terdiri paling kurang 2 bagian yaitu, (1) embryo dan (2) kulit biji (need coat atau testa).
Embryo terbentuk atau berasal dari telur yang dibuahi (zygote) dengan mengalami pebelahan sel di dalam embryosac.
Kulit biji terbentuk atau berasal dari integument (satu atau lebih) dari evule.
Biji merupakan suatu organisasi yang tersusun rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya.
Walaupun banyak hal yang terdapat pada biji, tetapi baik mengenal jumlah, bentuk maupun strukturnya, mempunyai satu fungsi dan tujuan yang sama yaitu menjamin kelangsungan hidupnya.
Pengetahuan tentang struktur biji akan memberikan pemahaman yang baik tentang perbedaan kedua struktur biji tersebut.

Alat dan Bahan :

1 Substratum bagi perkecambahan (tempat tumbuh) Benih tanaman yang diperlukan
2 Pisau silet
3 Kaca pembesar
4 Bak pengecambah

  Cara Kerja :
Ambil benih menurut keperluan.
Rendam dalam air dingin selama 24 jam.
Setelah direndam, angkat dan belah dengan silet secara memanjang dan melintang
Teliti dengan kaca pembesar, gambar benih yang terlihat, beri nama bagian-bagian benih tersebut.
Lakukan kembali cara 1 sampai 4 dengan waktu perendaman selama 5 hari.
Identifikasi hasil perkecambahan tersebut, sebutkan bagian normal dan tidak normal dari kecambah tesebut.

Literatur

  1. Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW
  2. Kartasapoetra, Ance G.Teknologi Benih. 2003. Jakarta: Rineka Cipta
  3. http://ramadhan.20m.com/whats_new.html
  4. http://www.wikipedia.com/perkecambahan

© Luluk Prihastuti 2024 | Be Mine theme by Tina Silva | Original by JustSkins + TextNData